Write on productivity, self development, and marketing. Head of Brand Communications Kitabisa.com. Host of Podcast Subjective.

Daftar rekomendasi tahunan + review singkat dari masing-masing buku

Image for post
Image for post

Kebiasaan saya membaca buku di tahun 2020 berubah sangat signifikan.

Perubahan yang paling terasa: hampir semua buku di tahun ini saya baca dalam bentuk digital. Entah itu berupa ebook di Kindle atau Audiobook.

Faktor utamanya tentu karena tidak bisa bepergian ke toko buku. Biasanya saya membeli buku bulanan ketika kunjungan ke Mall, tapi karena aktivitas itu tidak dilakukan sejak pandemi, maka saya jadi lebih memilih membeli buku digital.

Berikut 10 buku terbaik yang saya baca di tahun 2020.

1. Keep Going — Austin Kleon


Daftar rekomendasi + review singkat dari masing-masing buku

Image for post
Image for post

Iya, saya tahu. Tulisan ini dipublish di Desember 2020.

Tapi kok tulisannya tahun 2019, bukan 2020?

Jadi saya punya komitmen untuk mendokumentasikan 10 buku terbaik yang saya baca setiap tahunnya, dimulai dari tahun 2017 dan berlanjut ke tahun 2018.

Sayangnya, tahun 2019 saya skip menuntaskan draft tulisannya. Sehingga di tulisan ini saya akan tuntaskan dulu daftar buku di tahun 2019, sebelum saya menulis daftar untuk tahun 2020.

Berikut 10 buku terbaik yang saya baca di tahun 2019.

The Visual MBA — Jason Barron


Kumpulan obrolan tentang pekerjaan anak muda, kompilasi dari interview di Podcast Subjective

Image for post
Image for post

Konteks

Perkembangan teknologi dan internet membuat industri terus berubah dengan sangat cepat.

The Future of Jobs Report yang diluncurkan World Economic Forum pada Oktober 2020 menunjukkan banyak jenis pekerjaan yang semakin tidak relevan dan akan segera tidak dibutuhkan. Sementara itu makin banyak jenis pekerjaan baru yang dibutuhkan, tapi tenaga kerja dengan skill yang dibutuhkan masih sangat minim.

Tren global ini juga mulai terasa di Indonesia.


Mengenali perasaan insecure dan meragukan diri sendiri

Image for post
Image for post

Tulisan ini terdiri dari tiga bagian: (1) Cerita personal saya, (2) Mengenali Imposter Syndrome, dan (3) Tips mengatasi Imposter Syndrome.

Konteks: Cerita Personal Saya

Saya akan memulai tulisan ini dengan membuat pengakuan: saya sangat sering meragukan diri sendiri.

Saya sering tidak berani mengambil keputusan, maju mengambil peran, atau mencoba hal baru karena merasa tidak pantas atau tidak percaya pada kemampuan diri sendiri.

Saya ingin menceritakan beberapa momen keraguan yang pernah atau masih saya rasakan.

1. Merasa Minim Pengalaman Dibanding Orang Lain

Saya memulai karir profesional saya di sebuah startup, Kitabisa.com. Saya bergabung bahkan sebelum saya secara resmi lulus dari kampus sebagai salah satu early employee (saat saya bergabung lima tahun lalu…


Beralih dari fokus pada goal ke identitas yang ingin dibangun

Image for post
Image for post

Sebagian besar orang pasti pernah berusaha membangun kebiasaan baik — setidaknya satu tahun sekali ketika menuliskan goal dalam resolusi tahunan.

Kita ingin hidup lebih sehat; lalu berusaha membangun kebiasaan jogging setiap hari. Kita ingin bekerja lebih produktif; lalu berusaha membangun kebiasaan menulis setiap minggu. Atau kita ingin menambah pengetahuan dengan efisien; lalu berusaha membangun kebiasaan membaca setiap hari.

Tapi faktanya, 78% orang tetap gagal membangun kebiasaan baik meski sudah menuliskan goal secara spesifik.

Dalam banyak kesempatan, saya termasuk dalam kategori 78% orang ini. …


Metode untuk menentukan prioritas, mengatur jadwal dengan efektif, dan mengerjakan task dengan fokus.

Image for post
Image for post

Konteks

Dalam pekerjaan sehari-hari, kita pasti punya banyak tugas dan deadline.

Ada berbagai ceklis yang harus kita selesaikan sesuai tenggat waktu yang ditentukan.

Belum lagi ditambah dengan jadwal meeting, tugas tambahan dadakan di tengah minggu, masalah yang tiba-tiba harus diselesaikan, distraksi dan kehilangan fokus, hingga kebiasaan menunda-nunda.

Di tengah-tengah chaos ini, kita berharap bisa produktif menyelesaikan deadline tepat waktu dan menyelesaikan banyak ceklis.

Tapi yang sering terjadi, kita merasa sibuk mengerjakan banyak hal tapi ternyata tidak ada yang selesai. …


Panduan singkat mengirimkan pesan yang efektif untuk berjejaring secara profesional

Image for post
Image for post

Konteks

Internet dan sosmed memudahkan kita terkoneksi dengan siapapun.

Kita bisa terkoneksi hanya dengan berkirim email. Bahkan lebih mudah lagi melalui DM Instagram, cuitan di Twitter, atau fitur messaging di Facebook, Linkedin, dan sosmed lainnya. Pintunya jadi banyak dan mudah dibuka oleh siapa saja.

Nah sayangnya — bisa jadi karena terlalu mudah — banyak orang yang justru tidak efektif ketika mengirim DM/email. Tidak sedikit pula yang pesannya malah masuk kategori mengganggu.

Sebagai orang yang sering mendapatkan DM dan cold email, saya cukup familiar dengan berbagai pesan yang tidak efektif, mengganggu, atau…


Image for post
Image for post

Saat menulis ini, saya sudah berkarir profesional selama lebih dari 5 tahun.

Saya sudah melewati fase awal karir; meski secara usia karir sebenarnya masih terhitung muda, tapi saya sudah merasa lebih matang dan menemukan pola bekerja yang cocok untuk saya.

Di awal karir ketika baru mulai bekerja, ada banyak hal yang saya pelajari dengan banyak mencoba dan gagal. Fast forward ke 5 tahun berikutnya di hari ini, saya merasa ada beberapa hal penting yang jika saya investasikan lebih di awal karir saya, maka saya akan bertumbuh sebagai profesional lebih cepat dibandingkan sekarang.

Investasi yang saya maksud bukan investasi finansial (seperti…


Sebagai media sosial untuk profesional, popularitas Linkedin meningkat signifikan dua tahun terakhir.

Image for post
Image for post

Semakin banyak orang yang membuka Linkedin setiap hari, tidak hanya untuk mencari network baru, tetapi juga untuk membaca berbagai konten pengembangan karir maupun topik berfaedah lainnya.

Saya salah satunya.

Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap popularitas ini adalah keberhasilan Linkedin mengoptimalkan fitur Linkedin Feed.


Image for post
Image for post

Saya berbagi tentang 3 prinsip pilar yang saya pegang untuk optimasi Marketing menggunakan konten, baik untuk meningkatkan sales maupun branding. Saya juga sertakan data dan insight dari pengalaman saya menjalankan content marketing selama >3 tahun di Kitabisa.com.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store